Soal Kartel Daging Ayam, Mendag: Itu Ulah Pedagang Level Bawah

TheIndicatorDaily.com, BANDUNG – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita membantah adanya kartel daging ayam, dengan indikasi kenaikan harga menjelang Idul Fitri lalu. Menurut dia, hal ini terjadi bukan akibat ulah kartel. “Itu lebih disebabkan ulah pedagang di level bawah.

Pemain besar tidak akan berani (menimbun), karena risikonya terlalu mahal,” kata dia di Bandung, pekan lalu. Enggar mengakui harga ayam menjelang Idul Fitri sempat melampaui Rp 40 ribu per kilogram. Tapi, kata dia, hal itu hanya terjadi beberapa hari. “Harga kemudian turun beberapa hari kemudian, karena suplainya banyak,” ujar dia.

Sebelumnya, Enggar mengatakan pihaknya sengaja melepas kendali atas harga daging dan telur ayam karena peternak terancam merugi akibat pasokan yang berlimpah. Kenaikan harga menjelang hari raya dia anggap kompensasi untuk peternak. “Ada sedikit keuntungan untuk mereka, tapi jika dihitung per kilogram masih sangat rendah.”

Menurut Enggar, intervensi yang dilakukan pemerintah untuk tata niaga daging ayam dan telur berjalan di level distribusi. Lagi pula, kata dia, kenaikan harga daging ayam menjelang Idul Fitri masih dalam batas toleransi.

“Kenaikan harganya 5,6 persen, masih batas normal,” kata dia. Saat ditemui di Makassar, pertengahan Juni lalu, Ketua Komisi Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, menduga ada distributor yang mempermainkan pasokan daging ayam sehingga harganya melambung menjelang Idul Fitri. Menurut dia, KPPU sedang menyelidiki pihak-pihak yang menjadi penyebab meningkatnya harga daging ayam. “Biasanya yang memainkan harga ini para broker yang ada di rantai distribusi,” kata dia.

Menurut Syarkawi, harga daging ayam di tingkat peternak masih stabil, yakni Rp 14-16 ribu per kilogram. Namun harga jualnya di pasar bisa lebih tinggi dua kali lipat. “Seharusnya harga daging ayam paling mahal. Rp 19 ribu per kilogram,” tutur dia. Di Makassar, misalnya, harga daging ayam menjelang Lebaran melonjak dari Rp 30 ribu per kilogram menjadi Rp 45 ribu per kilogram setelah permintaan terus meningkat. Karena itu, Syarkawi memperingatkan para distributor daging ayam agar tak memanfaatkan tingginya permintaan menjelang Lebaran dengan mempermainkan harga.”Ada 12 distributor ayam yang pernah kami hukum. Semuanya pemain besar,” kata dia.

Pada Oktober 2016, Majelis KPPU menyatakan 12 perusahaan bersalah karena melakukan praktik kartel ayam lewat pengapkiran dini induk ayam (parent stock) pada 2015. Akibat praktik ini, harga bibit ayam naik dari Rp 4.200 menjadi Rp 4.500-6.000 per ekor. Kenaikan harga ini merugikan peternak skala kecil dan konsumen karena terj adi lonj akan harga ayam di pasar. Kerugian peternak akibat selisih harga tersebut Rp 224 miliar.

Komentar Anda?