Lorong Sempit Penebus Dosa

TheIndicatorDaily.com, PEKANBARU – Lorong kecil menuju ruang tahanan di Polres Kepulauan Meranti Riau, dijadikan tempat menebus dosa para tahanan. Di lorong kecil itu mereka menuju pertobatan.

Lorong itu lebarnya hanya satu meter menuju ke dua sel yang berjeruji besi. Di lorong itulah, para tahanan dari pelaku kriminal mencoba ‘mencari’ setitik pengampunan dosa atas perilaku mereka selama ini.

Lorong kecil, menjadi saksi bisu para tahanan yang menuju pertobatan untuk menebus dosa masa lalu. Para tahanan menjadikan lorong itu sebagai tempat salat berjamaah dan tempat untuk membaca kitab suci Alquran.

Walau lorong itu sempit, tapi tak menjadikan halangan untuk mencari ridho Sang Ilahi. Di lorong ‘Penebus dosa’ itu juga ada ukiran kaligrafi nan indah di bagian sudut tembok sel tahanan.

Lorong sudah lama dijadikan tempat peribadatan para tahanan sejak Polres Meranti terbentuk tahun 2013 silam. AKBP Pandra Arsyad sebagai Kapolres Meranti pertama di Kabupaten Meranti pecahan dari Kabupaten Bengkalis sebagai induknya.

Kini, Pandra yang berpangkat AKBP sudah bertugas di Mabes Polri. Dia adalah tampuk pimpinan di Polres Meranti yang pertama kalinya membidani pembinaan para tahanan dengan pendekatan agama. Langkah itu lantas dilanjutkan tampuk pimpinan selanjutnya.

Di lorong penebus dosa itu, para tahanan digembleng jajaran Polres Meranti untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Sepekan sekali, pihak Polres Meranti mendatangkan ustaz untuk mengisi ceramah kepada para tahanan. Ustaz yang hadirpun, duduk bersama di lorong itu dalam menyampaikan tausiyahnya.

Di bulan suci Ramadan penuh dengan pengampunan, para tahananpun tetap melaksanakan ibadahnya dengan tekun di lorong tersebut.

Malam Ramadan tahun ini, lorong penebus dosa itu juga dijadikan tempat salat tarawih bersama. Pada pukul 22.00 WIB, barulah para tahanan meninggalkan lorong itu untuk kembali ke sel tahanan.

Bripka Nopri Manto (37) ayah satu orang anak ini adalah anggota yang rajin melakukan pembinaan terhadap tahahan. Ia adalah anggota di Mapolres Meranti sejak tahun 2015 yang bertugas di Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti).

“Tahanan inikan umumnya jauh dari agama. Makanya kita melakukan pendekatan lewat agama terhadap mereka,” kata Nopri kepada detikcom, Minggu 4/6/2017.

Untuk melakukan pendekatan bukanlah hal yang gampang. Caranya, Nopri melakukan pendekatan satu per satu. Saat ini ada 19 tahanan yang terus dilakukan pembinaan. Umumnya tahanan kasus narkoba ini diajak ngobrol. Setelah itu, barulah mereka diajak untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Mereka kita bekali keimanan dengan menghadirkan ustaz seminggu sekali untuk memberikan siraman rohani,” kata Nopri.

Lewat pendekatan itu lantas para tahanan ini juga dibina untuk mengaji. Pengajian dilakukan sesama tahanan dengan tetap pengawasan petugas jaga. Bagi tahanan yang bisa mengaji, diminta untuk mengajari rekannya yang belum bisa mengaji.

“Jadi sesama mereka pun saling mengajari. Mereka rajin mengaji apa lagi saat Ramadan ini,” kata Nopri.

Nereka juga melaksanakan salat fardu berjamaah di lorong tersebut. Imamnya juga dari mereka sendiri. Di antara para tahanan nanti ada yang bertugas sebagai muazin (azan) dan ada yang menjadi imam.

“Jadi mereka salat berjamaah, nanti ada yang azan, ada yang jadi imam. Sesama mereka saling kompak,” kata Nopri.

Kekompakan mereka inilah, terkadang harus berakhir ketika di antara mereka memasuki masa persidangan. Di mana berkas mereka sudah diserahkan jaksa ke ke pengadilan.

Dengan demikian, mereka akan dipindahkan ke tahanan jaksa. Bila terjadi pemindahan ini, para tahanan banyak yang menangis, mereka sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya. Malah kadang, ada tahanan yang tidak mau dipindahkan karena merasa lebih aman dan betah berada di tahanan Polres Meranti.

“Kalau sudah ada yang pindah tahanan, mereka menangis. Nanti masuk lagi tahanan baru dengan kasus yang berbeda lagi. Nah, kita mulai dari nol lagi untuk membinanya. Begitulah seterusnya. Saya senang menjalani tugas ini,” kata Nopri.

Kapolres Meranti, AKBP Barliansyah mengatakan, pihaknya akan tetap selalu melakukan pembinaan terhadap tahanan. Itu pula sebabnya, salah satu tahanan menjadi mualaf setelah melihat rekan satu selnya setiap malam mengaji.

“Ini juga bagian dari perhatian kita untuk membina para tahanan dari segi keagamaan. Semoga kedepannya mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi,” kata Barliansyah.

 

 

Sumber: Detik.com

 

Komentar Anda?