Kedaulatan, Di Balik Ledakan Data Digital Tanah Air

TheIndicatordaily.com, JAKARTA – Perusahaan riset We Are Social sebagaimana dikutip Techtalk Report akhir Mei lalu mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami ledakan data digital yang besar. Itu terjadi karena dipicu keterhubungan warga terhadap perangkat telekomunikasi yang sudah mencapai 126 persen.

Hal ini berarti jumlah telepon seluler di Indonesia lebih banyak, sekitar 26 persen dibandingkan jumlah total penduduk Indonesia yang sebesar 260 juta jiwa. Sementara itu, jumlah nomor unik pengguna telepon seluler di Indonesia sudah mencapai lebih dari 160 juta.

Jumlah pengguna Internet di Tanah Air pun telah naik 51 persen ke angka 132,7 juta pengguna pada awal 2017 ini. Pertumbuhan tersebut turut diiringi meningkatnya jumlah pengguna layanan media sosial. Tahun lalu, jumlahnya hanya mencapai 79 juta tapi kini angka tersebut kini telah naik menjadi 106 juta pengguna. Para pengguna yang secara aktif menggunakan media sosial di perangkat mobile pun naik dari angka 66 juta menjadi 92 juta. Dari segi pertambahan jumlah pengguna di layanan media sosial tersebut, Indonesia bahkan menempati posisi ketiga di dunia. Negeri ini berhasil mengalahkan negara-negara seperti Brasil dan Amerika Serikat, dan hanya kalah dari Cina dan India.

Namun dibalik tren tersebut, ada ancaman serius bagi masyarakat pengguna Internet. Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap cyber Internet. Pada 2016, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling sering mendapat serangan cyber dan pada 2017 menduduki peringkat kedua. Hal ini disebabkan lemahnya cyber security di Indonesia yang mengakibatkan begitu mudahnya oknum dari negara luar melakukan serangan cyber. Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Kalamullah Ramli, mengemukakan, bahwa beragam serangan cyber yang masuk ke Indonesia karena kedaulatan Internet Indonesia belum terbentuk, sehingga dibutuhkan keberpihakan dari semua unsur di bangsa Indonesia untuk mengatasi masalah cyber security.

Menurut dia, Indonesia perlu untuk melakukan penguatan sistem proteksi keamanan data nasional. “Total investasi untuk data center telah mencapai US$ 400 juta, dan diharapkan agar pemerintah tetap konsisten terhadap keamanan data nasional sehingga iklim berusaha di Indonesia yang menggunakan data center merasa memiliki keamanan dalam penggunaan datanya”, ujarnya.

Menurut pakar electronic security dari Telkom University, Ari M Barmawi, kewaspadaan untuk menghadapi serangan cyber perlu dilakukan, terutama untuk transaksi elektronik. “Banyak di antara kita kurang peka pada kebutuhan keamanan data kita, kebutuhan untuk mengamankan data mesti dimulai dari pengguna,” ujarnya.

Komentar Anda?