Jaksa dan Polisi Berbeda Soal Status Hary Tanoe

TheIndicatorDaily.com, JAKARTA – Kejaksaan Agung dan Mabes Polri berbeda pernyataan mengenai status hukum CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT). Jaksa Agung M Prasetyo mengatakan, HT telah menjadi tersangka dalam kasus dugaan ancaman melalui SMS kepada jaksa Yulianto. Pernyataan jaksa agung itu langsung dibantah Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul.

Jaksa agung menyatakan, sampai saat ini pihaknya masih inenunggu proses penyidikan kasus hingga dilakukan pemberkasan. Hasil penyidikan itulah yang akan diserahkan kepada jaksa penuntut umum (JPU).

“Terlapornya, tersangka lah ya sekarang, sudah tersangka saya dengar. Sudah tersangka,” ujar Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (16/6).

Setelah pemberkasan oleh polisi selesai, kata dia, barulah jaksa akan menindaklanjuti berkas penyidikan sebelum memutuskan kelanjutan kasus. “Nanti akan diteliti, sudah lengkap atau tidak, memenuhi syarat atau tidak, untuk diajukan ke persidangan. Itu kita tunggu ya,” ujarnya.

HT dilaporkan terkait dugaan SMS yang bernada ancaman kepada jaksa Yulianto. SMS yang dikirimkan sebanyak tiga kali tersebut dilaporkan kepada Bareskrim Polri dengan nomor LP/100/I/ 2016/Bareskrim.

Menurut Prasetyo, saat ini alat bukti adanya SMS tersebut telah diserahkan kepada penyidik, termasuk ponsel yang digunakan Yulianto saat menerima pesan singkat dari HT.

“HP yang dipakai Yulianto untuk menerima pesan yang berisi ancaman dari si tersangka itu sudah disita oleh penyidik polri sebagai barang bukti. Itu wujud jaksa memenuhi ketentuan proses hukum yang sedang berjalan,” katanya.

Kabagpenum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul membantah penetapan tersangka terhadap HT^ang juga menjabat ketua umum Partai Perindo. Menurut Martinus, hingga saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. “Saat ini dalam proses penyelidikan,” ujarnya.

Dalam proses penyelidikan, kata Martinus, penyidik tengah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Hingga kemarin, saksi-saksi yang diperiksa dan dimintai keterangan sudah ada 13 orang, termasuk saksi ahli.

Dia menerangkan, setelah proses penyelidikan selesai, barulah akan dilakukan gelar perkara untuk menentukan kasus HTlaik naik ke tingkat penyidikan atau tidak. Setelah itu, kata dia, barulah akan diketahui siapa tersangkanya. “Jadi, sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan,” katanya.

Mengenai gelar perkara, menurut dia, hal itu baru akan dilakukan pekan depan. Ihwal keterangan yang disampaikan jaksa agung, Martinus enggan menanggapi.

Saat memenuhi panggilan penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Tipidsiber) Bareskrim Polri, beberapa hari lalu, HT menjelaskan maksud pesan singkat yang dikirimnya kepada kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Yulianto. HT kemudian mengambil catatan dari sakunya.

“Saya mesti ngambil catatan. Kalau nggak, nanti ngomong-nya keliru. Karena HP-nya kan sudah nggak ada,” ujarnya.
Menurut HT, pada 5 Januari 2016 dia SMS ke jaksa Yulianto yang intinya berbunyi, “Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng, saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional, yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini. Saya pasti jadi pimpinan di negeri ini, di situlah saatnya Indonesia akan dibersihkan.”

“Ini bukan ancaman,” kata HT.

Komentar Anda?