Gagal Panen, Pemerintah Waspadai Kelangkaan Beras

TheIndicatordaily.com, JAKARTA – Pemerintah perlu mewaspadai kelangkaan beras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat tahun ini dan tahun depan. Stok diperkirakan berkurang karena terjadi gagal panen akibat serangan hama di lahan sekitar 500.000 hektar pada tahun ini.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) Dwi Andreas Santosa, kepada media Jumat (30/6/2017), mengemukakan, hama wereng dan pengerek batang menyerang lahan pertanian seluas 500.000 hektar di daerah-daerah lumbung pangan. Daerah-daerah tersebut tersebar di wilayah jaringan AB2TI di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dengan rata-rata produktivitas padi sekitar 7 ton per hektar, berarti produksi gabah kering panen berkurang 3,5 juta ton. Apabila dikonversi menjadi beras, berarti ada potensi kehilangan produksi beras 1,7 juta ton. “Gagal panen itu akan menyebabkan pasokan gabali berkurang. Jika pasokan kurang, harga gabah dan beras akan naik.

Untuk itu, pemerintah perlu mengantisipasinya. Pemerintah perlu memastikan dan menghitung kembali realisasi produksi padi pada tahun ini,” katanya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan juga Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Maman Suherman mengemukakan, selama Januari-Juni 2017, luas tanaman yang terserang hama hanya 51.183 hektar dari realisasi tanam secara nasional yang seluas 7,3 juta hektar. Dari luas tersebut, yang terkena serangan ringan seluas 48.100 hektar, sedang 2.100 hektar, berat 52 hektar, dan puso 181 hektar. Total potensi kehilangan produksi beras dari padi yang terserang hama itu sekitar 28.841 ton.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, stok beras di Perum Bulog hingga kini 1,7 juta ton. Stok tersebut aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 6-7 bulan ke depan. Bulog juga masih terus menyerap gabah petani selama musim panen tahun ini.

Komentar Anda?