Blokade Qatar, Televisi Al Jazeera Terancam Tutup

TheIndicatordaily.com, DOHA – Stasiun televisi Al Jazeera terancam ditutup. Berdasarkan laporan the Guardian. Ahad (2/7/2017). Hal tersebut berkaitan dengan blokade negara-negara Arab terhadap Qatar yang dituduh mendukung terorisme.

Pada 23 Juni, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Bahrain berupaya memberikan sanksi diplomatik dan ekonomi kepada Qatar. Blokade tersebut diikuti dengan ancaman tindakan lebih lanjut apabila Qatar menolak memenuhi 13 poin tuntutan dari negara-negara tersebut. Salah satu tuntutannya yaitu menutup jaringan media Al Jazeera.

Al Jazeera dikenal sebagai media politik Timur Tengah yang berani dan kontroversial. Media tersebut pernah digembar-gemborkan sebagai suar media Arab yang bebas dan menghancurkan hegemoni jaringan barat. Al Jazeera membalikkan arus informasi dari timur ke barat untuk pertama kalinya sejak abad pertengahan.

Setelah 21 tahun diluncurkan, Al Jazeera dinilai cukup mengganggu dan menantang penguasa. Tidak sepertriembaga penyiaran pada umumnya, kehadiran Al Jazeera dipandang sebagai fenomena unik. Sejak memulai penyiarannya pada 1996, mereka telah merevolusi media Arab. Pada 2010, Al Jazeera telah memainkan peran penting dalam mewujudkan revolusi politik yang nyata di sebagian besardunia Arab.

Sebelum Al Jazeera mengudara, berita televisi Arab dianggap sebagai omong kosong. Berita-berita yang dimuat hanya seputar apa yang dilakukan syekh, emir, atau presiden mereka pada hari itu. Namun, Al Jazeera berbeda. Mereka memunculkan suara yang sebelumnya dilarang untuk didengar. Mulai dari konflik Israel. Muammar Gaddafi, pemberontak Kenya, Talitjan, dan Osama bin Laden.

Media tersebut juga mempelopori jurnalisme investigatif yang tepat. Mereka juga berani menampilkan acara bincang-bincang dengan berbagai topik kontroversial, seperti bom bunuh diri dan keberadaan Tuhan, yang sebelumnya sangat dibatasi. Apa yang disajikan Al Jazeera mendorong kembali kebebasan berbicara.

Di sisi lain, keberadaan Al Jazeera dinilai sangat mengganggu pemerintah lain di kawasan Teluk. Negara-negara di Arab umumnya takut terhadap berbagai kemungkinanyang mampu melemahkan kekuasaan mereka.

Segudang cara pernah dilakukan oleh oknum yang tidak menyukai Al Jazeera. Mulai dari menangkap jurnalis media tersebut. menutup biro, mendeportasi karyawan. melecehkan potensi pengiklan, melakukan tuntutan hukum, hingga membom kantor.

Jika Doha menyerah, Qatar akan kehilangan kedaulatannya dan menjadi negara di “bawah” Saudi dan UEA. Namun, mengabaikan tenggat waktu yang diberikan bisa berdampak buruk dan menyebabkan perubahan rezim di Qatar atau bahkan perang.

Komentar Anda?